nama yantoawat,data wawancara dan kumpulan feature
DATA
NARASUMBER
Yanto
Awat
-------------------------------------------
Nama :
La Agi
Umur
berapa : 50 thun, sudah berumah tangga di butun
Anak
ada 7 orang, 5 laki – laki 2 Perempuan
-
anak yang pertama umur 20 tahun,sekolah tdak lulus SMA behenti, sekarang kerja
di Hotel Swiss di Ambon.
-
nomr dua, sekolah juga tdak sampai selesaai juga beherti di SMA Kls 2
– ketiga, sudah kelas I SMA, - yag ke Empat
masih SMP
–
yang perempuan kelima baru kelas II SD,
-
yang ke enam baru masuk TK, dan keenam,
-
perempuan masih di gedong/bayi.
-
ASal Bau – Bau
-
Tinggal di Kos –Kosan di Pantai
Lossari, Rp 350 rbu/bulan,
-
RT/RW, Tidak tahu RT berapa, baru 8
bulan tinggal di kos
-
Jualan sudh lama, dari anak – anak masih
kecil,
-
Penghasilan Perhari : 50 rbu/ perbulan /
terkadaang bisa dapat 1000.000, terkadaang juga Cuma dapat uang makan saja,
tergatung reziki
-
Jenis jualan, rokok dan AIR menral,
garis dan kacang , sam permen
-
Rokok biasa dijual perbatang sama bungkus,
-
Sampoerna Rp 18:000/bungkus, Rp
1500/btang
-
Malborro RP 18.000/bungkus. Rp
1500/btang
-
Gudang Garam Rp18.000/bungkus RP
1500/btang
-
Dji samsu Rp 16 .000/bunkus/--
-
GG Filter Rp 17.000/bungkus/…
-
Permen 3 Biji Rp 1000
-
Air mineral di jual 3 gelas Rp 2000
-
Kacang mete 1000/ bunkus
-
Korek Gas Rp 1000
-
Biasa keluar jualan pada jam 07 Pgi,
pulang saampai jam 08-09 selesai
-
Kapal masuk , sering jualan di kapal
dengan membawa dagangan yang sama,
-
Masalah keuntungang antara jualan di
kapal dan seperti jualan biasanya, itu sama saja tergatung rezeki, ada yang
jualannya sampaai habis ada juga yang tidak, tdaak beda sama saja dengan
berjualan di tempat gini
-
Tempat ambil barang dman : ambil di
toko,kalau tdk ada unag ambil saja dulu, biasa ambiil barang di toko Affan, daan
ada kadang juga ambiil di toko Pakat.
-
Degaangan pribadi, dengan menggunakann
modal 500-800rbu, untuk bisa dapaakan daganngan yang sa
-
t ini dijual,
-
Jualan tidk di kenakan pajak,
-
Pekerjaan istri : mengurusi anak –a anak
di kaampung, paginya sering buatkan roti untuk dijual
-
Umur istri :60 thun
---------------------------------------------------------------------------------------
PRIA TUA PENJUAL ASONGAN
Feature- . Setiap pagi,
sekitar pukul 07.30, ketika matahari masih bersinar merah di Percut pegunungan,
sebuah kota pantai 22 kilometer dari Ambon, La Agi, 50 tahun, memulai
pekerjaannya sebagai pedagang asongan. Berjalan
menyusuri lorong – lorong bangunan terminal mobil mardika, menuju Hotel Ambon
Manise (Amans), sambil jalan membahu kerangjang denganganya, yang dililit tali
berwana biru dibungkus dari potongan selang yang kebiruan.
Pria
kelahiran Bau – bau Sulawesi Tenggara, kini tinggal di sebuah kontrakan belakang
Pantai Lossari kota Ambon, yang tidak
layak untuk di tumpangi, dinding kos yang terbuat dari triples dan kayu kini sudah kelihatan lapuk dan tua dimakan kutu
zaman. setiap bulan mereka harus membayar per bilik kamar Rp 350ribu/bulan,untuk ia dan kedua anaknya
tinggal. Pak agi katakan mereka tinggal tidak menetap kami harus pindah tempat kesana kemari untuk jualan “kami saja
baru masuk di kontrakan 8 bulan lalu, namun
tempat yang kami tinggal sekarang ini, katanya akan mau di gusur,
karna tanah ini milik Perusahan nanti kita harus cari kontrakan baru untuk
kami tinggal lagi”.
Pelbagai
beben yang dipikul bapak separuh baya ini. Ditambah lagi harus membiayai 7 (tujuh) orang anak serta istrinya,
dengan modal jualan asongan (penjual keliling), ia pingin sekali membahagiakan segenap
anggota keluarganya walaupun cuma sebagai penjual asongan, ia pingin melihat
ada suara keceriaan itu, memuncah di tengah keluarganya. melihat anaknya dapat sekolah
sampai selesai seperti anak lainnya.
Kondisi
yang hiruk pikuk, bertabur membuat separuh dari anaknya tidak dapat menyelesaikan
pendidikan mereka. Mulanya ke 6 dari tujuh anaknya bersekolah, akan tetapi masalah
ekonomi inilah yang membuat sebagian anaknya untuk tidak dapat menyelesaikan
sekolahnya. Anak pertama, dan kedua, kini harus berhenti pada sekolah Menengah Atas
(SMA), untuk membantu ayahnya mencari uang, agar dapat menyekolahkan adik –
adik mereka.
Kendatipun
hanya seorang tamatan Sekolah Menengah Pertama (SMP), ia bersukur
karna masih ada perusahan yang mau
menerimanya untuk bekerja di tempat perusahan mereka, walaupun sebagai Official di Hotel Swiss Kota Ambon, ia bersukur karna dapat mengurangi sedikit
beban yang ditanggung ayahnya selama ini. Anak saya yang nomor dua sekolah tidak
sampai selesai harus putus di kelas II (dua), ia lebih memilih untuk berjualan
di pasar dengan menggunakan gerobaknya, yang nomor 3 masih duduk di bangku SMA
Tingkat I (satu), yang nomor Empat masih berada di bangku SMP, yang
perempuan nomor lima baru di Tingkat II (dua) Sekolah Dasar (SD), dan yang
nomor Enam baru masuk Sekolah Taman Kanak (TK), dan yang nomor Tujuh yang
Perempuan terakhir masih di gendong.
“saya
bersukur juga, dengan bantuan anak saya, yang kerja di Hotel kini meringankan
beban saya, dan adik – adiknya juga masih lanjutkan sekolahnya” ujarnya.
Lelaki tua itu, berdiri
di persimpangan jalan memakai topi warna coklat, baju kerak bergaris vertical keabu –
abuan, dengan memikul box Air mineral sambil nunggu jajakan dating. Walaupun suasana di sekelilig nampak
ramai, ada yang menjual buah, kaset DVD,
ada juga teman – teman yang hendak berjualan yang sama seperti bapak separuh
baya itu.
Banyak orang yang lalulalang mencari kesebukan tersendiri membuat
jalan seputaran, depan hotel Amans, menjadi
tersendat. Mobil angkutan umum berserakan melintasi jalan seputar hotel Amans, sebagian
pengendara mobil melarikan berlawanan arah, para petugas Dinas Perhubungan
(dishub) terlihat risau dengan keadaan yang tengah terjadi. Begitu gigi dan
semangat lelaki separuh baya, berjalan keluar masuk selah- selah mobil yang lagi
ngantre, panas begitu menikam udara semakin panas, keringat keluar membasahi,
wajahnya, sehinngga bajupun ikut basah karena hantaman panas.
folusi kendaraan mencemari udara di area sekitar tempat ia
berdiri, namun mereka tetap enjoy untuk menjajakan jualan mereka. jualan yang ia sering jajakan hanya berupa Rokok
Sampoerna, Malborro,Gudang Garam, semuanya dengan harga Rp18.000/bungkus dijual
Rp 1500/batang,sedangkan Dji samsu Rp 16 .000/bunkus, GG Filter Rp
17.000/bungkus dijual dengan Rp 1000/batang. Air mineral di jual 3 gelas Rp
2000, permen 3 Biji Rp 1000, dan kacang mete, dan korek gas dijual dengan harga
Rp 1000. Inilah keseharian pak agi, dari jam 07 pagi sampai waktu 08 – 09 malam
wit.
Terkadang
kalau tempatnya sepih, jarang pembelinya ia pergi mencari tampat yang ramai
untuk jualan,ia sering jualan juga di atas kapal, yang lagi mau berangkat
keluar dari Kota Ambon,
“Masalah keuntungang antara jualan di kapal
dan seperti jualan biasanya, itu sama saja tergatung rezeki, ada yang jualannya
sampaai habis ada juga yang tidak, tdaak beda sama saja dengan berjualan di
tempat gini”kata Dia
Setiap jualannya habis terbelih semua
ia, harus dating ke toko Affan untuk membeli barang, kalaupun tidak ada modal
untuk beli, ada kesepakatan khusus yang di buat antara pak Agi dan pihak toko, ia
mengatakan “kita ambil di toko saja,kalau tidak ada uang ambil saja dulu, dan ada kadang juga saya ambil di toko Pakat, soalnya harus menggunakann
modal pribadi Rp 500 – 800 rbu, untuk bisa dapatkan dagangan untuk dijual.( YA)
Data Gabungan
DATA DARI NARASUMBER
Rahmin
Syukur
------------------------------------
·
Nama
Ibu Ita
·
Alamat
Aipati, jalan sedap malam
·
Kel/Desa Honipopu RT. 002/RW. 001
·
Asal dari buton, Wawasangka Tengah,
Sulawesi Tenggara
·
Usia 40 tahun
·
Ibu Ita sudah 17 tahun di Ambon, sebelum kerusuhan 1999
·
Berjualan Asongan sudah 17 tahun
·
Sudah menikah, dan dikarunia 6 orang
anak
·
Tinggal di kos-kosan bersama suaminya.
·
Harga kos-kosan 300 ribu/bulan
·
Anak pertama berumur 28 tahun, dan sudah
menyelesaikan SI Teknik Bangunan di
UNPATTI
·
Anak kedua berumur 26 thn, bekerja
sebagai tukang ojek.
·
Anak ketiga SMA kls 3, dan anak keempat
SMA kls 2, anak ke 5 SMP kls 2, Ank bungsunya SD kelas 4. Anak kedua sampai empat
berada di Nabire.
·
Suami bernama Lajambata, umur 50 thn,
jualan Sembako Di Jalan Aipati Lorong Buntu
·
Penghasilan suami sehari Rp 250 ribu.
·
Ibu Ita berjualan asongan mulai pukul 8
pagi sampai jam 8 malam
·
Menjual Rokok surya 1 bks seharga 19
ribu, /batang 1.500. Rokok Sampoerna, Marboro /bks 20 ribu, sdgkan /btang
1.000. Air jernih (ayudes) satu 1.000. permen relaxa, kopiko, dan mintz, kuku
bima, ekstrajos.
·
Jualan hanya di Terminal oto Lin III
saja.
·
berjualan sambil berdiri, karena tidak punya
tempat duduk,
·
Jualan Hanya Membeli di Toko Kevin
·
Modal Perhari 300 ribu
·
Keuntungan perhari 50-100 ribu,
tergantung dari banyaknya jualan yang
laku
·
Hasil jualan digunakan untuk kebutuhan
sehari- hari dan sebagian lagi di tabung untuk dikirimkan kekampung, untuk kebutuhan sekolah Anak-anaknya.
-------------------------------------------------------------------------------------
Para
penjual jalanan
Feature – kewajiban orang tua untuk menafkahi
anak – anak , adalah merupakan tugas utama bagi seorang ayah sebagai kepala
dalam rumah taggah, akan tetapi hal ini terlihat menarik dari keluarga La
Jambata dengan Ibu Ita, sepasang suami istri yang keseharian mereka hanya
berjualan asongan untuk meghidupi ke enam orang anak mereka.
Walaupun sudah 17 tahun menetap di Kota Ambon, mereka tidak
memiliki rumah yang tetap untuk di tinggali anggota keluarga mereka, karena
salami ini mereka tinggal tidak menetap,
hanya menyewah perbilik kamar (kos)
Rp 3000 /bln, di Aipati, jln, Sedap Malam, Kel/Desa Honipopu RT. 002/RW 001
Untuk mereka tinggal.
Ibu rumah tanggah 40 tahun asal Buton kelahiran wawasangka Tengah, Sulawasi
Tenggara kini berjualan sebgai pedagang asongan di terminal mobil LIN III (tiga),
biasanya ibu ita, memulai jualan pukul 08 pagi Wit, samapi jam 08 malam.
Sepasang suami istri
ini memiliki anak 6 (enam) orang anak, anak mereka yang pertama kini berumur 28
tahun sudah menyelesaikan studi starata satu (SI), di univessitas Pattimura
(unpatti) Ambon, anak yang nomor dua, yang ber berumur 26 thn ini kini bekerja
sebagai tukang ojek, anaknya ketiga ini masih duduk di bangku kelas III (tiga)
sekolah menengah Atas (SMA) yang nomor empat Sekolah menengah Atas (SMA) kelas II (dua) anak yang kelima juga masih duduk di bangku Sekolah menengah
pertama (SMP) kelas II (dua) dan anak yang bungsu baru sekolah dasar (SD) kelas Empat (IV), akan tetapi anak yang
kedua sampai empat berada di sekolah Nabire provinsi Maluku barat daya.
Pak agi dan ibu ita, bekerja untuk menghidupi anggota
keluarganya dengan modal asongan,, para pekerja jalanan ini, memiliki harapan
yang tinggi yakni dapat membahagiaka anggota keluarganya. Siang pun mereka
bagaikan sampah – sampah yang bertabur di jalan – jalan, malam haripun mereka
kembali ke rumah, terpelanting di kamar yang kecil dan sempit itu.
Kerja yang keras, tidak mendapatkan hasil yang se imbang
dengan apa yang mereka kerjakan seharian mereka.
Eksistensi
KPI adalah bagian dari wujud peran serta masyarakat dalam hal
penyiaran, baik sebagai wadah aspirasi maupun mewakili kepentingan
masyarakat (UU Penyiaran, pasal 8 ayat 1). Legitimasi politik bagi
posisi KPI dalam kehidupan kenegaraan berikutnya secara tegas diatur
oleh UU Penyiaran sebagai lembaga negara independen yang mengatur
hal-hal mengenai penyiaran (UU Penyiaran, pasal 7 ayat 2). Secara
konseptual posisi ini mendudukkan KPI sebagai lembaga kuasi negara atau
dalam istilah lain juga biasa dikenal dengan auxilarry state institution.